Selasa, 04 Maret 2025

Pertemuan 14

 

ASPEK HUKUM DALAM E-COMMERCE

 

 

A.   Pengantar E-commerce.

E-commerce atau elektronik commerce sama dengan perdagangan elektronik. E-commerce adalah electronic commerce, merupakan kumpulan teknologi, aplikasi, dan bisnis yang menghubungkan perusahaan atau perseorangan sebagai konsumen untuk melakukan transaksi elektronik, pertukaran barang, dan pertukaran informasi melalui internet atau televisi, www, atau jaringan komputer lainnya.

E-Commerce dapat diartikan sebagai proses transaksi jual beli secara elektronik melalui media internet, dan terdapat     berbagai     definisi     E-commerce       yang dikemukakan para ahli antara lain :

1.     Menurut Hidayat, 2008 : Perdagangan Elektronik (E-Commerce = electronic commerce ) adalah bagian dari e-lifestyle yang memungkinkan transaksi jual beli dilakukan secara online dari sudut tempat mana pun

2.     Menurut Munawar, 2009 : E-Commerce juga dapat diartikan sebagai suatu proses berbisnis dengan menggunakan teknologi elektronik yang menghubungkan antara perusahaan, konsumen dan masyarakat dalam bentuk transaksi elektronik dan pertukaran/penjualan barang, servis, dan informasi secara elektronik

3.     menurut Jony Wong , 2010 adalah pembelian, penjualan dan pemasaran barang serta jasa melalui sistem elektronik. Seperti televisi, radio dan jaringan computer atau internet.

4.     Menurut Kalakota dan Winston (Suyanto, 2003:11), definisi E-Commerce dapat ditinjau dari beberapa perspektif, yaitu:

                                                            a.      Dari perspektif komunikasi, e-commerce adalah pengiriman barang, layanan, informasi, atau pembayaran melalui jaringan komputer atau melalui peralatan elektronik lainnya.

                                                           b.      Dari perspektif proses bisnis, e-commerce adalah aplikasi dari teknologi yang menuju otomatisasi dari transaksi bisnis dan aliran kerja.

                                                            c.      Dari perspektif layanan, e-commerce merupakan suatu alat yang memenuhi keinginan perusahaan, konsumen, dan manajemen untuk memangkas biaya layanan (service cost) ketika meningkatkan kualitas barang dan meningkatkan kecepatan layanan pengiriman.

                                                           d.      Dari perspektif online, e-commerce menyediakan kemampuan untuk membeli dan menjual barang ataupun informasi melalui internet dan sarana online lainnya.

5.     Menurut David Baum, pengertian e-commerce adalah: “E-Commerce is a dynamic set of technologies, applications, and business process that link enterprise, consumers, and communities through electronic transactions and the electronic exchange of goods, services, and information”.

6.     E-Commerce merupakan satu set dinamis teknologi, aplikasi, dan proses bisnis yang menghubungkan perusahaan, konsumen, dan komunitas tertentu melalui transaksi elektronik dan perdagangan barang, pelayanan, dan informasi yang dilakukan secara elektronik (David Baum dalam Onno W. Purbo, 2000 : 2)

7.     7. Menurut Fingar (2000), e-Commerce merupakan penyedia infrastruktur bagi perusahaan dalam melakukan ekspansi proses bisnis internal menuju eksternal tanpa harus menghadapi rintangan waktu dan ruang.

E-Commerce secara umum dapat diartikan sebagai transaksi jual beli secara elektronik melalui media internet. Selain itu, E-commerce juga dapat diartikan sebagai suatu proses berbisnis dengan memakai teknologi elektronik yang menghubungkan antara perusahaan, konsumen dan masyarakat dalam bentuk transaksi elektronik dan pertukaran atau penjualan barang, servis, dan informasi secara elektronik. Dalam melakukan E-Commerce penggunaan internet menjadi pilihan favorit oleh kebanyakan orang karena kemudahan-kemudahan yang dimiliki oleh jaringan internet tersebut, yaitu:

a. Internet sebagai jaringan public yang sangat besar, cepat dan kemudahan dalam mengaksesnya.

b. Internet menggunakan electronic data sebagai media penyampaian pesan/data sehingga dapat dilakukan pengiriman dan penerimaan informasi secara mudah dan ringkas, baik dalam bentuk data elektronik analog maupun digital.

Sehingga kehadiran E-Commerce sebagai media transaksi yang baru, cepat dan mudah ini tentunya menguntungkan banyak pihak, baik pihak konsumen, maupun pihak produsen dan penjual (retailer). Dengan menggunakan internet, proses jual beli dapat dilakukan dengan menghemat biaya dan waktu.

 

B.    Pengaturan E-commerce.

Dalam strategi e-Commerce, Kotler (2007) mengatakan ada pembagian bisnis internet menurut pihak-pihak yang terlibat dalam transaksi penjualan, yaitu:

a.      B2B merupakan transaksi perdagangan online yang dilakukan antar bisnis, perusahaan ataupun organisasi.

b.     B2C merupakan perdagangan online yang dilakukan antara perusahaan menjual ke konsumen individual, biasa disebut retail (eceran).

c.      Consumer to Consumer (C2C) merupakan perdagangan online yang dilakukan antara konsumen.

d.     Consumer to Business (C2B) merupakan transaksi penjualan online terjadi ketika individu menjual produk atau jasa kepada perusahaan.

Busines to Busines (B2B) juga dapat diartikan sebagai sistem komunikasi bisnis online antar pelaku, terdiri atas:

Transaksi Inter-Organizational System (IOS), misalnya transaksi electronic funds transfer, electronic forms, intrgrated messaging, share data based, supply chain management, dan lain-lain.

Transaksi pasar elektronik (electronic market transfer) (Munir Fuady, 2005 : 408). Ruang Lingkup B2B :

1.     Trading Partners yang sudah diketahui ,umumnya memiliki hubungan (relationship) yang cukup lama atau berdasarkan kontrak

2.     Informasi hanya dipertukarkan dengan partner tersebut.

3.     jenis informasi yang dikirimkan dapat disusun sesuai kebutuhan dan kepercayaan (trust).

4.     Pertukaran data (data exchange) berlangsung berulang-ulang dan secara berkala, format data yang sudah disepakati bersama.

5.     Sehingga memudahkan pertukaran data untuk dua entiti yang menggunakan standart yang sama (sistem elektronik yang sudah disepakati).

Bussines to Cunsumer (B2C) merupakan transaksi ritel dengan pembeli individual. Selain itu Bussines to Cunsumer (B2C) juga dapat berarti mekanisme toko online (electronic shoping mall) yaitu transaksi antara e-merchant dengan e-customer.

Ruang Lingkup B2C diantaranya :

1.     Terbuka untuk umum, dimana informasi disebarkan ke umum.

2.     Servis yang diberikan bersifat umum (generic) dengan mekanisme yang dapat digunakan oleh khayalak ramai. c/o: servis diberikan dengan menggunakan basis web.

3.     Servis diberikan berdasarkan permohonan (on demand). Consumer melakukan inisiatif dan produser harus siap memberikan respon sesuai dengan permohonan.

Consumer to Consumer (C2C) merupakan transaksi dimana konsumen menjual produk secara langsung kepada konsumen lainnya. Juga seorang individu yang mengiklankan produk barang atau jasa, pengetahuan, maupun keahliannya di salah satu situs lelang (Munir Fuady, 2005 : 408).

Consumer to Bussines (C2B) merupakan individu yang menjual produk atau jasa kepada organisasi dan individu yang mencari penjual dan melakukan transaksi (Munir Fuady, 2005:408).

C.   Resiko Ecommerce

Menurut Fingar (2000), ada beberapa keuntungan bagi pebisnis dalam penggunaan e-Commerce yaitu :

1.     Jangkauan pasar luas, tanpa batas-batas wilayah.

2.     e-Commerce menghemat biaya-biaya

3.     dapat memangkas biaya penyimpanan dan pemeliharaan barang.

4.     Ketersediaan, dapat berbisnis selama 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

5.     Skalabilitas dalam artian dapat diperluas atau diperbanyak item barang tanpa batasan

Pada sisi konsumen, juga memperoleh keuntungan dalam pembelian online melalui internet antara lain:

1.     Memperoleh informasi yang beragam dan mendetail, melalui internet konsumen dapat memperoleh aneka informasi barang dan jasa dari Penjual Menawarkan harga yang lebih murah karena adanya pengurangan sejumlah biaya yang dilakukan perusahaan dalam melakukan bisnis melalui internet.

2.     Konsumen juga dapat menghemat waktu untuk berbelanja karena cukup pada satu tempat saja serta dapat melakukannya ditempat mereka sedang beraktivitas.

Menurut Rahardjo (2003), ada beberapa risiko yang mungkin dialami oleh para pebisnis dalam membangun bisnisnya melalui internet atau e-Commerce yaitu:

1.     Infrastruktur telekomunikasi di Indonesia masih terbatas atau belum merata hingga ke pelosok Indonesia dan harganya masih relatif lebih mahal

2.     Delivery channel. Pengiriman barang masih ditakutkan

3.     Kultur dan Kepercayaan (trust) Orang Indonesia Masih kurang Percaya

4.     Munculnya kejahatan dalam transaksi online internet.

Transaksi jual-beli melalui media elektronik (e-commerce) terdiri dari :

1.     Tahapan penawaran

Menurut Mariam Darus Badrulzaman, penawaran merupakan suatu ajakan untuk masuk kedalam suatu perjanjian yang mengikat (invitation to enter into a binding agreement).

2.     Penerimaan

Penerimaan dapat dinyatakan melalui website atau surat elektronik.

3.     Pembayaran

Setelah Tahapan Penerimaan maka akan ada Pembayaran

Dengan menyelesaikan ketiga tahapan transaksi ini maka calon pembeli dianggap telah melakukan penerimaan/acceptance dan dengan demikian telah terjadi kontrak elektronik (e-contract).

Pasal 1320 KUH Perdata juga menentukan empat syarat sahnya perjanjian, yaitu:

1.                 Adanya kesepakatan (toesteming) para pihak.

Kesepakatan terjadi saat konsumen men “submit” form aplikasi dan setuju melakukan pembayaran.

2.                 Kecakapan melakukan perbuatan hukum.

Syarat ini dapat ditemukan pada saat customer mengisi form pendaftaran yang berisi mengenai data diri dari customer, dimana terdapat suatu kolom yang berisi mengenai tanggal lahir, serta adanya suatu box yang harus di check (√) yang menyatakan bahwa si customer telah berusia 18 tahun. Sehingga kecakapan customer dapat terlihat pada saat ia Melakukan pengisian form.

3.                 Adanya objek tertentu (onderwerp der overeenskomst). jika dihubungkan dengan apa yang ada dalam e-commerce yang menyediakan berbagai macam benda atau produk yang ditawarkan dan costomer bebas memilih terhadap salah satu atau beberapa jenis benda atau produk yang dinginkannya

4.                 Adanya sebab yang halal (geoorloofde oorzak).

kontrak yang terjadi dalam e-commerce secara tidak langsung telah memenuhi syarat suatu sebab yang halal, bahwa kontrak atau perjanjian yang dilakukan antar para pihaknya mempunyai sebab yang halal sebagai dasar perjanjian

 

D.   Permasalahan Hukum dalam Ecommerce

Persesuaian pernyataan  kehendak,   ada    beberapa     teori  Teori

ucapan (uitingtheorie) :

1.     Kesepakatan        terjadi saat   pihak yang  menerima    penawaran menyatakan bahwa ia menerima penawaran tersebut.

2.     Teori pengiriman (verzendtheorie)

Kesepakatan        terjadi pihak yang  menerima    penawaran mengirinmkan telegram.

3.     Teori pengetahuan (vernemingstheorie)

Kesepakatan terjadi saat pihak yang menawarkan mengetahui adanya penerimaan (acceptatie).

4.     Teori penerimaan (ontvangstheorie)

Kesepakatan terjadi pihak yang menawarkan menerima langsung jawaban dari pihak lawan.

Beberapa permasalahan hukum yang muncul dalam bidang hukum dalam

aktivitas e-commerce, antara lain:

1.     otentikasi subyek hukum yang membuat transaksi melalui internet;

2.     saat perjanjian berlaku dan memiliki kekuatan mengikat secara hukum ;

3.     obyek transaksi yang diperjualbelikan;

4.     mekanisme peralihan hak;

5.     hubungan hukum dan pertanggungjawaban para pihak yang terlibat dalam transaksi baik penjual, pembeli, maupun para pendukung seperti perbankan, internet service provider (ISP), dan lain-lain;

6.     legalitas dokumen catatan elektronik serta tanda tangan digital sebagai alat bukti;

7.     mekanisme penyelesaian sengketa;

8.     pilihan hukum dan forum peradilan yang berwenang dalam Penyelesaian sengketa.

Terdapat 2 (dua) permasalahan yang timbul dan cara mengatasinya

Permasalahan Yuridis

1.      Keabsahan perjanjian Menurut Pasal 1320 KUH Perdata yang mengalami hambatan – hambatan dalam penerpannya.

2.      Penyelesaian sengketa dalam transaksi e-commerce, penyelesaian sengketa ini dapat ditempuh dengan jalan melalui penyelesaian alternatif (ADR) karena penyelesaian sengketa ini dianggap efektif mengingat e-commerce perdagangan yang dapat melintasi batas – batas negara.

3.      UUPK yang tidak akomodatif, Di dalam UUPK ini memiliki keterbatasan pengertian mengenai pelaku usaha dan pengaturan hak – hak konsumen yang hanya ditujukan pada transaksi secara konsvensional. Cara mengatasi hal ini adalah pemerintah segera mungkin membuat undang – undang perlindungan konsumen yang didalamnya mengatur juga tentang transaksi e- commerce.

4.      Tidak adnya lembaga penjamin keabsahan toko online. Cara mengatasinya adalah pemerintah segera mungkin merelalisasikan untuk membentuk lembaga penjamin (Cerification Authority).

Mekanisme Keamanan Bertransaksi di Internet dengan menggunakan Secure Electronic Transaction yang dilakukan sebagai berikut :

1.      suatu pihak pengelola e-commerce yang menggunakan SET, harus membuat pasangan key khusus untuk webnya.

2.      Public key akan disebarkan, dan hal ini biasanya dilakukan melalui penyebaran web browser.

3.      Public key disertakan secara gratis untuk setiap web browser, dan telah tersedia jika browser tersebut diinstall.

4.      Private key, pasangan untuk pasangan public key tersebut disimpan oleh pengelola e-com.

Microsoft dan Netscape, bekerja sama dengan perusahaan kartu kredit (Visa dan MasterCard), serta perusahaan-perusahaan internet security (seperti VeriSign), telah membuat standart enkripsi khusus yang membuat transaksi melalui web menjadi aman.

Private key, pasangan untuk pasangan public key :

1.      Jika pembeli menggunakan browser untuk mengirim form transaksi, pembeli tersebut akan menggunakan public key yang telah tersedia di web browsernya.

2.      Orang lain yang tidak mempunyai private key pasangannya, tidak akan bisa men-dekripsi data form yang dikirim dengan public key tersebut.

3.      Setelah data sampai ke pengelola e-com, data tersebut akan di dekripsi dengan menggunakan private key.

4.      Artinya, hanya pengelola e-com yang bisa mendapatkan data itu dalam bentuk yang sebenarnya, dan data identitas serta nomor kartu kredit customer tidak akan jatuh ke tangan yang tidak berhak.

 

Tugas

1.      Jelaskan Pengertian E-Commerce ? Bandingkan dengan E-Bisnis ! Jelaskan perbedaan antara E-commerce dgn E-Bisnis

2.      Bagaimana Keabsahan Kontrak Elektronik ? Jelaskan

3.      Sebutkan Permasalahan dalam E-Commerce dan Bagaimana cara penanganannya ?

4.      Bagaiamana     Keamanan Transaksi E-Commerce khususnya Keamanan Pembayararan , Privacy dan Kerahasiaan data ?

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UTS pendidikan pancasila teknik elektro semester II

Dalam menjawab persoalan ini, perlu dipahami terlebih dahulu bahwa konsep yang ditanyakan tidak dapat dilepaskan dari kerangka teoritik maup...